Selasa, 26 Juni 2012

LOTUS BIRTH


BAB I
PENDAHULUAN

1. LATAR BELAKANG
Plasenta merupakan sumber darah bagi bayi yang banyak mengandung sel-sel induk, besi, oksigen, hormon dan enzim-enzim. Sepertiga dari total suplai darah pada bayi berasal dari plasenta yang dialirkan melalui tali pusat.
Ketika bayi baru lahir, sesaat kemudian tali pusat akan segera diklem pada dua tempat dan kemudian akan dipotong diantara keduanya. Dan dalam hitungan menit kemudian, plasenta ikut lahir. Itulah prosedur persalinan yang sesuai dengan standar asuhan persalinan normal yang selalu kita aplikasikan hingga pada saat ini. Namun, ada fenomena yang disebut lotus birth. Lotus birth ini adalah proses persalinan tanpa mengklem tali pusat seperti yang biasa di lakukan, apalagi sampai memotong tali pusat, dan tali pusat ini dibiarkan sendiri hingga terlepas dari bayi secara alami.
Negara perintis Lotus birth untuk pertama kalinya adalah Amerika. Lotus birth dilakukan sebagai langkah pencegahan untuk melindungi bayi dari infeksi luka yang terbuka akibat pemotongan pada tali pusat. Meskipun Lotus birth ini merupakan suatu fenomena yang baru, tapi penundaan pemotongan tali pusat sudah ada dalam budaya Bali dan budaya suku Aborigin Australia jauh sebelumnya. Dan keputusan Lotus birth serta dampak fisiologis yang dapat terjadi merupakan tanggung jawab dari klien yang telah memilih dan membuat keputusan untuk asuhan lotus birth ini (informed choncen).
Persalinan ala lotus birth belum lazim di lakukan di negara Indonesia. Praktisi medis masih pro-kontra terhadap metode lotus birth ini, kata dr Frans O.H. Prasetyadi SpOG. Kalaupun ada, yang meminta adalah ibu dengan penganut kepercayaan tertentu dan sudah mengerti dengan resiko yang telah dijelaskan sebelumnya.
Kepala Subdepartemen Obstetri Ginekologi RSAL, dr Ramelan, Surabaya juga mengatakan, selama plasenta masih menempel pada ibu, ada aliran darah dari plasenta yang masuk ke tubuh bayi. Ada sebagian ibu yang beranggapan bahwa kesatuan antara ibu, bayi, dan plasenta tidak boleh diputus begitu saja. Dianggap ada suatu energi yang menguatkan bayi bila berdekatan dengan plasentanya. Maka, tali pusat dibiarkan putus sendiri.
Lotus birth sebenarnya juga mempunyai banyak manfaat dan beberapa  keuntungan untuk bayi, seperti jika tali pusat dibiarkan terus berdenyut sehingga memungkinkan terjadinya perpanjangan aliran darah ibu ke janin, Bayi tetap berada dekat ibu setelah kelahiran sehingga memungkinkan terjadinya waktu yang lebih lama untuk bounding attachment, pemulihan tali pusat yang cepat (2-3 hari) dibandingkan normalnya jika segera di potong dan mencegah bayi kehilangan 60 ml darah, yang setara dengan  1200 ml darah orang dewasa.
Dr. Ramelan lantas menerangkan prosedur lotus birth. Setelah bayi lahir, plasenta diletakkan di sebuah wadah khusus plasenta. Kemudian ia didekatkan pada bayi. Agar tidak berbau busuk, plasenta dicuci dengan garam laut atau dioleskan minyak lavender. Jadi, saat bayi dibersihkan ada petugas yang membawa sekaligus membersihkan plasenta, dan hal ini yang menjadi salah satu kerugian metode lotus birth.
Setelah itu, ibu bisa melakukan inisiasi menyusu dini (IMD). Posisi plasenta juga tak bisa jauh dari bayi. Tentu dibutuhkan petugas yang membantu mendekatkan posisi plasenta dengan bayi. Sehingga menjadi tampak repot dan memerlukan banyak tenaga medis, tapi jika sudah menjadi kemauan klien sendiri diharapkan ayah bayi bersedia membantu membawa dan merawat plasenta tersebut, dan hal ini bisa berdampak positif karena terjalinnya early bonding antara ayah dan bayi. Dalam waktu 2-3 hari setelah bayi dilahirkan, plasenta akan putus sendiri (pupak puser).
Lepas dari kelebihan dan kelemahan asuhan lotus birth yang telah dikemukakan seperti diatas, apalagi masalah pro dan kontra penerapannya secara global sampai saat sekarang ini, kita sebagai bidan dan pendidik tetap harus mengetahui perkembangan ilmu kebidanan, khususnya pada lotus birth ini, apakah yang dimaksud dengan lotus birth dan bagaimana asuhan nya, sebagai perbincangan yang tengah hangat dan merupakan evidence based dalam dunia kebidanan, kita patut membicarakan nya.
2. TUJUAN
Tujuan Umum
Sebagai syarat untuk memenuhi tugas pengganti Ujian Akhir Semester pada mata kuliah Asuhan kebidanan dalam KB.
Tujuan Khusus
Dapat mengetahui dan memahami tentang :
1.      Pengertian Lotus Birth dalam asuhan kebidanan
2.      Mengetahui sejarah Lotus Birth
3.      Penghormatan terhadap plasenta di berbagai budaya Negara
4.      Langkah- langkah dalam melakukan proses Lotus Birth
5.      Manfaat atau keuntungan dilakukannya Lotus Birth
6.      Kerugian dilakukannya Lotus Birth
7.      Alasan memilih Lotus Birth
BAB II
TINJAUAN TEORITIS

LOTUS BIRTH
1. Pengertian Lotus Birth dalam Asuhan Kebidanan
Lotus Birth adalah suatu metode asuhan pada bayi baru lahir dimana tali pusat bayi tidak dipotong. Setelah bayi lahir, tali pusat yang melekat pada bayi dan plasenta dibiarkan saja, tanpa dijepit atau dipotong. Tali pusat kemudian akan kering sendiri dan akhirnya lepas secara alami dari umbilicus. Pelepasan tersebut umumnya terjadi 3-10 hari setelah bayi lahir. Tali pusat dan plasenta merupakan satu unit dan satu kesatuan.

2. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO)
Menekankan pentingnya penyatuan atau penggabungan pendekatan untuk asuhan ibu dan bayi, dan menyatakan dengan jelas (dalam Panduan Praktis Asuhan Persalinan Normal:, Geneva, Swiss, 1997) “Penundaan Pengkleman (atau tidak sama sekali diklem) adalah cara fisiologis dalam perawatan tali pusat, dan pengkleman tali pusat secara dini merupakan intervensi yang masih memerlukan pembuktian lebih lanjut.”
Lotus Birth jarang dilakukan di rumah sakit tetapi umumnya dilakukan di klinik dan rumah bersalin khusus, sehingga proses bonding attachment antara ibu dan bayi dapat dilakukan, hal ini tentunya bermanfaat bagi ibu dan bayi yang baru lahir.
Karena adanya praktek budaya yang berbeda maka proses pengawetan plasenta dilakukan dalam berbagai cara yang berbeda. Beberapa orang lebih memilih untuk menyimpan plasenta sehingga dapat menguburkannya dengan anak di akhir kehidupan anak tersebut. Sedangkan yang lainnya membiarkan plasenta sampai mengerut dan mengering secara alami dan kemudian dikuburkan. Salah satu contohnya adalah Orang-orang Igbo di Nigeria, mereka menguburkan plasenta setelah lahir dan sering menanam pohon diatas kuburan plasenta tersebut.
Pada Lotus Birth, kelebihan cairan yang dikeluarkan plasenta  disimpan dalam mangkuk atau waskom terbuka atau dibungkus kain, lalu didekatkan dengan bayi. Kain yang digunakan untuk  menutupi plasenta atau wadah yang digunakan harus memungkinkan terjadinya pertukaran udara, sehingga plasenta mendapatkan udara dan mulai mengering serta tidak berbau busuk. Garam laut sering digunakan untuk mempercepat proses pengeringan plasenta. Kadang-kadang minyak esensial, seperti lavender, atau bubuk tumbuh-tumbuhan seperti goldenseal, neem, bersama dengan lavender  juga digunakan untuk  tambahan anti bacterial.
Apabila tindakan pengeringan plasenta tidak diterapkan dengan baik plasenta akan memiliki bau yang berbeda, bau tersebut dapat diatasi  dengan penanaman plasenta secara langsung atau didinginkan setelah minggu pertama pasca persalinan.

3. Sejarah Lotus Birth
Negara perintis Lotus birth untuk pertama kalinya adalah Amerika. Lotus birth dilakukan sebagai langkah pencegahan untuk melindungi bayi dari infeksi luka yang terbuka. Meskipun Lotus birth ini merupakan suatu fenomena yang baru, tapi penundaan pemotongan tali pusat sudah ada dalam budaya Bali dan budaya suku Aborigin Australia. Dan keputusan Lotus birth serta dampak fisiologis yang dapat terjadi merupakan tanggung jawab dari klien yang telah memilih dan membuat keputusan untuk asuhan lotus birth ini (informed choncen).
Primatolog Jane Goodall, adalah orang yang pertama kali melakukan studi jangka panjang dengan objek penelitian simpanse di alam bebas.
Pada hewan Simpanse, yang merupakan mamalia dengan 99% bahan genetik hampir sama dengan manusia, juga pada prakteknya membiarkan plasenta nya utuh, tidak merusaknya bahkan memotong. Hal itu dikenal dengan fakta primatologist, dan bayi-bayi simpanse tersebut mampu hidup dan berkembang dengan sehat, demikian juga dengan induknya tidak ada masalah. Beberapa praktisi kelahiran teratai simpanse merujuk kepada praktek sebagai latihan alami bagi manusia juga.
Informasi mengenai lotus birth ini juga terdapat dalam ajaran Budha, Hindu, Kristen serta Yahudi. Di Tibet dan Zen Buddhisme, istilah "kelahiran teratai" digunakan untuk menggambarkan para guru spiritual seperti Buddha Gautama dan Padmasambhava (Lien Sen-hua), menekankan mereka masuk ke dunia sebagai utuh, anak-anak kudus. Kelahiran referensi teratai juga ditemukan dalam Hinduisme, misalnya dalam kisah kelahiran Wisnu.

4. Penghormatan terhadap plasenta di berbagai budaya negara
Beda bangsa, daerah dan suku beda pula penanganannya terhadap keberadaan ari-ari atau plasenta yang hadir ketika persalinan terjadi. Dalam dunia pengobatan barat, plasenta dianggap tidak lebih dari sekedar buangan rumah sakit, tetapi mereka mengakui adanya penanganan khusus yang diberlakukan di berbagai belahan dunia terhadap plasenta ini.
Diantara suku Navajo Indian barat daya, menjadi suatu kebiasaan untuk menguburkan plasenta bayi di keempat sudut kuburan keluarga yang dianggap mulia, sebagai suatu pengikat tanah leluhur dan masyarakat. Sementara suku Maori di Selandia Baru memiliki tradisi yang sama yaitu menguburkan plasenta di tanah yang masih belum tercemar. Dalam bahasa asli Maori kata untuk tanah dan plasenta tersebut adalah : whenua (baca: venua).
Suku pedalaman Bolivian Aymara dan Queche meyakini bahwa plasenta memiliki spirit tersendiri. Karenanya seorang suami atau ayah dari bayi harus memperlakukan plasenta tersebut dengan mencuci dan menguburkannya pada tempat yang terlindung dan tersembunyi. Jika ritual tersebut tidak dilakukan secara benar, keyakinan mereka adalah ibu atau bayi akan menjadi sakit atau bahkan bisa mati.
Suku Ibo di Negiria dan Ghana memperlakukan plasenta sebagai kembaran dari bayi yang hidup, sementara plasenta tersebut adalah kembaran yang mati. Sehingga harus dikuburkan dengan ritual tertentu. Lain lagi di Filipina, plasenta dikuburkan dengan berbagai macam buku oleh ibunya. Ini suatu pengharapan bahwa kelak bayinya akan tumbuh menjadi anak yang pintar. Kondisi Filipina ternyata tidak berbeda jauh dengan beberapa masyarakat yang ada di Indonesia, dimana mereka menguburkan plasenta dilengkapi dengan buku, pensil dengan maksud agar kelak anak yang dilahirkan tersebut menjadi anak yang pintar.
Ironis lagi di Vietnam dan China plasenta disiapkan untuk dikonsumsi oleh ibu yang habis melahirkan. Masyarakat china dan Vietnam mempercayai, bahwa ibu yang baru melahirkan seharusnya merebus sendiri plasenta bayinya, kemudian dijadikan kaldu dan meminumnya untuk memperbaiki kualitas ASI nya.
Sementara di nusantara Indonesia, Ari-ari atau plasenta sering dianggap sebagai saudara bayi yang memeliharanya selama kehamilan berlangsung, bahkan tidak jarang plasenta mendapat perhatian khusus sesuai dengan adat kebiasaaan masyarakat yang berlaku. Sebagian masyarakat memperlakukan plasenta (ari-ari) dengan tata laksana khusus, sebagai ungkapan terimakasih karena telah memelihara bayi sampai cukup bulan serta lahir ke dunia.
Perlakuan masyarakat Bali (beragama Hindu) terhadap plasenta
1.      Setelah dibersihkan dimasukkan ke dalam kelapa yang telah di belah, sebagai lambang dunia dan isinya.
2.      Di isi dengan duri-duri, sehingga terhindar dari gangguan, ditambahkan rempah-rempah, dan diberi wewangian agar harum dan tidak berbau.
3.      Di bungkus kain putih dan di tanam di depan rumah, dengan ketentuan sebelah kanan untuk laki-laki, sedangkan sebelah kiri untuk perempuan.
4.      Selama 42 hari selalu di pasang lilin (malam hari), setiap hari plasenta tersebut diberikan susu juga.
Perlakuan masyarakat Jawa terhadap ari-ari
1.      Setelah ari-ari dibersihkan dimasukkan ke dalam kendi.
2.      Di dalam kendi disertakan tulisan jawa / Abjad agar diharapkan kelak bayi tersebut pintar.
3.      Diberikan anget-anget dan duri sehingga pandangannya tajam.
4.      Selanjutnya di tanam di depan rumah untuk bayi laki-laki selama 42 hari, dan di belakang rumah selama 36 hari untuk bayi perempuan.
5.      Sebagian ada yang membuangnya ke sungai, sehingga bayi ini kelak akan dianggap suka merantau.
Perlakuan masyarakat Nusa Tenggara Timur terhadap plasenta
1.      Ditaruh sekitar 3 bulan di atas perapian sampai kering.
2.      Selanjutnya di tanam di sertai doa dan alat-tulis.

5. Langkah- langkah dalam melakukan proses Lotus Birth
Beberapa hal yang dilakukan dalam Lotus Birth diantaranya :
1.      Bila bayi lahir, biarkan tali pusat utuh. Jika tali pusat berada di sekitar leher bayi (lilitan tali pusat) cukup di longgarkan dan angkat tali pusat tersebut melewati kepala bayi.
2.      Tunggu lahirnya plasenta secara alami.
3.      Ketika plasenta lahir, tempatkan plasenta pada mangkuk khusus di dekat ibu.
4.      Tunggu transfusi penuh darah secara alami dari pusat ke bayi sebelum menangani plasenta.
5.      Hati-hati dalam mencuci plasenta yaitu dengan cara menggunakan air hangat dan tepuk-tepuk sampai kering.
6.      Tempatkan plasenta di tempat yang kering.
7.      Letakkan plasenta pada  bahan yang menyerap seperti sebuah popok atau kain kemudian letakkan dalam tas plasenta.
8.      Permukaan plasenta akan berubah setiap hari bahkan lebih cepat  jika sering terjadi rembesan. Alternatif lain untuk mempercepat pengeringan plasenta yaitu dengan menaburkan garam pada bagian plasenta
9.      Dalam keseharian tetap lakukan asuhan normal pada bayi baru lahir, Gendong bayi dan beri makan sesuai kebutuhannya.
10.  Pakaikan bayi menggunakan pakaian yang longgar.
11.  Bayi dapat dimandikan seperti biasa, biarkan plasenta bersamanya.
12.  Meminimalisir pergerakan bayi, khususnya pada bagian daerah didekat tali pusat.

6. Manfaat atau keuntungan dilakukannya Lotus Birth
1.      Tali pusat dibiarkan terus berdenyut sehingga memungkinkan terjadinya perpanjangan aliran darah ibu ke janin.
2.      Oksigen vital yang melalui tali pusat dapat sampai ke bayi sebelum bayi benar-benar dapat mulai bernafas sendiri.
3.      Lotus Birth juga memungkinkan bayi cepat untuk menangis segera setelah lahir.
4.      Bayi tetap berada dekat ibu setelah kelahiran sehingga memungkinkan terjadinya waktu yang lebih lama untuk bounding attachment.
5.      Rata-rata waktu yang dibutuhkan untuk terlepasnya tali pusat bila tali pusat dipotong segera ketika lahir adalah 8-9 hari, ketika berhenti berdenyut 6-7 hari, dan jika dibiarkan secara alamai 3-4 hari.
6.      Dr Sarah Buckley mengatakan : bayi akan menerima tambahan 50-100 ml darah yang dikenal sebagai transfusi placenta. Darah transfuse ini mengandung zat besi, sel darah merah, keping darah dan bahan gizi lain, yang akan bermanfaat bagi bayi sampai tahun pertama kehidupannya. Hilangnya 30 ml darah ke bayi baru lahir adalah setara dengan hilangnya 600 ml darah untuk orang dewasa. Asuhan persalinan umum dengan pemotongan tali pusat sebelum berhenti berdenyut memungkinkan bayi baru lahir kehilangan  60 ml darah, yang setara dengan  1200ml darah orang dewasa.

7. Kelemahan Lotus Birth
1.      Tidak bisa diterapkan pada seluruh kebudayaan.
2.      Membutuhkan fasilitas kesehatan yang memadai.
3.      Membutuhkan tenaga kesehatan yang berpengalaman.
4.      Membutuhkan banyak petugas kesehatan, misalnya bayi di mandikan harus ada petugas yang lain memegangi dan menjaga tali pusat.
5.      Memerlukan perawatan ekstra pada plasenta agar tidak membusuk dan berbau tidak sedap.

8. Alasan mengapa memilih Lotus Birth
Hanya karena tali pusat telah berhenti berdenyut  tidak berarti tali pusat menjadi tidak berguna lagi. Ada yang masih mengalir ke dalam darah bayi. Setelah mencapai volume darah optimal pada bayi, sisa dari jaringan akan menutup secara aktif. Penutupan semua jaringan tidak terjadi ketika tali pusat tampak berhenti berdenyut. Tali pusat dapat terus berdenyut sekitar 2 hingga 3 jam.
Setiap ibu memiliki alasan dan pendapat sendiri. Berikut ini adalah beberapa alasan ibu untuk memilih Lotus Birth:
1.      Ibu dan keluarga tidak ingin memisahkan plasenta dari bayi dengan cara memotong tali pusat.
2.      Supaya proses transisi bayi terjadi secara lembut dan damai, yang memungkinkan penolong persalinan untuk memotong tali pusat pada waktu yang tepat.
3.      Penghormatan terhadap bayi dan plasenta pada sebagian kebudayaan.
4.      Asumsi ibu bahwa dapat menjamin bayi mendapatkan volume darah optimal dan spesifik yang diperlukan bagi bayi.
5.      Mendorong ibu untuk menenangkan diri pada minggu pertama postpartum sebagai masa pemulihan sehingga bayi mendapat perhatian dan kasih sayang  penuh.
6.      Mengurangi angka kesakitan bayi akibat infeksi nosokomial dari pengunjung yang ingin bertemu bayi. Sebagian besar pengunjung akan lebih memilih untuk menunggu hingga plasenta telah lepas.
7.      Alasan rohani atau emosional.
8.      Tradisi budaya yang harus dilakukan.
9.      Tidak khawatir tentang bagaimana mengklem, memotong atau mengikat tali pusat.
10.  Kemungkinan menurunkan risiko infeksi (Lotus Birth memastikan sistem tertutup antara plasenta, tali pusat, dan bayi sehingga tidak ada luka terbuka)
11.  Kemungkinan menurunkan waktu penyembuhan luka pada perut bayi (adanya luka membutuhkan waktu untuk penyembuhan. sedangkan jika tidak ada luka, waktu penyembuhan akan minimal.


 
BAB III
PENUTUP

KESIMPULAN
Lotus Birth adalah suatu metode asuhan pada bayi baru lahir dimana tali pusat bayi tidak dipotong. Setelah bayi lahir, tali pusat yang melekat pada bayi dan plasenta dibiarkan saja, tanpa dijepit atau dipotong. Tali pusat dan plasenta merupakan satu unit dan satu kesatuan. Tali pusat kemudian akan kering sendiri dan akhirnya lepas secara alami dari umbilicus. Pelepasan tersebut umumnya terjadi 3-10 hari setelah bayi lahir.
Negara perintis Lotus birth untuk pertama kalinya adalah Amerika. Lotus birth dilakukan sebagai langkah pencegahan untuk melindungi bayi dari infeksi luka yang terbuka. Meskipun Lotus birth ini merupakan suatu fenomena yang baru, tapi penundaan pemotongan tali pusat sudah ada dalam budaya Bali dan budaya suku Aborigin Australia. Dan keputusan Lotus birth serta dampak fisiologis yang dapat terjadi merupakan tanggung jawab dari klien yang telah memilih dan membuat keputusan untuk asuhan lotus birth ini (informed choncen).
Sedangkan di Negara Indonesia sendiri asuhan bayi dengan lotus birth belum dapat di aplikasikan, selain terkait dengan pro dan kontra penerapannya juga terkendala dengan kelemahan-kelemahan pelaksanaan lotus birth sendiri.

SARAN
1.      Karena lotus birth adalah suatu ilmu yang baru di harapkan kita sebagai seorang bidan dapat mengetahui dan selalu mengikuti perkembangan ilmu kebidanan.
2.      Diharapkan nanti penerapan dengan metode lotus birth ini dapat dilakukan di Indonesia.

DAFTAR PUSTAKA
http://www.lotusfertility.com/Lotus_Birth_Q/Lotus_Birth_QA.html
http://www.purebirth-australia.com/lotusbirth/lotusbirth.html
http://www.healthypages.co.uk/newsitem.php
http://www.breastfeeding.com/helpme/lotus_birth.html
http://www.womenofspirit.asn.au/LotusBirthText.htm






Tidak ada komentar:

Poskan Komentar